Cerita Sex Diperkosa pamanku

Cerita Sex Diperkosa pamanku - Saat itu aku berusia 16 tahun. Keluargaku tinggal di sebuah daerahdi Jawa Tengah. Kami memang bukan orang kaya raya, tapisetidaknya kami hidup berkecukupan. Aku berkeinginan untukmelanjutkan sekolah SMU ku di Jakarta. Pada awalnya orang tuaku menolak, alasannya karena mereka menganggap hidup di Jakarta sangatlah sulit. Namun tekadku sudah bulat. Akhirnya akuberangkat dengan kereta menuju Jakarta. Perjalanan sehari semalam ini memang membuatku pegal walaupun kereta cukupnyaman. Aku sulit memejamkan mata karena terus-menerus membayangkan gemerlapnya Jakarta. Namun niatku bukan untuk bersenang-senang, aku mau belajar, menuntul ilmu setinggi- tingginya.



Akhirnya kereta tiba di stasiun Gambir, kira-kira pukul 11 siang. Ternyata Jakarta sangat terik! Ini memang bukan pertama kalinya aku ke Jakarta. Pernah beberapa kali sebelumnya aku ke kota ini untuk keperluan keluarga dan liburan. Tapi kali ini aku pergi sendiri. Dengan berbekal catatan rute angkutan umum, aku beranikan diri untuk mencari bus kota. Supir taksi dan ojek pun bertubi-tubi menawarkan jasa. Aku mau irit sajalah, lagipula hanya 2 kali naik bus, bisa lahh

Bus melaju ke selatan Jakarta, tempat dimana tante dan om ku tinggal. Jalanan cukup lancar siang itu, jam 1 aku sudah tiba di rumah mereka. Tante dan om menyambut dengan ramah. Aku langsung diantar ke kamar tamu. Mereka sudah memiliki anak berumur 3 tahun. Rumah ini memang tidak terlalu besar, namun cukup nyaman untukku. Hari itu kuhabiskan waktu untuk bermain-main dengan Dipo, anak tante dan omku. Hari-hari sekolah sudah dimulai, ini adalah tahun ajaran baru, dan aku duduk di kelas 1 SMU. Suasana belajar disini tidak seperti di kampung. Disini lebih ramai dan alat praktikumnya juga lebih lengkap. Aku sangat bersemangat sekali sekolah. Uang jajan rutindikirim orang tuaku. Aku mengakali uang jajanku supaya bisa tersisa banyak karena ngga mungkin aku minta uang tambahan pada tante dan om ku. Masa’ udah numpang, minta uang pula… Setiap hari aku juga membantu pekerjaan rumah. Hal ini ngga aku kerjakan dengan terpaksa, karena ini juga bentuk terima kasih kepada mereka. Begitulah, setiap harinya kegiatanku, berangkat sekolah pagi-pagi, pulang jam 4 sore, bantu-bantu pekerjaan rumah. Bila ada keperluan diluar, aku usahakan untuk tidak pulang terlalu malam.

Kira-kira sudah 6 bulan aku tinggal disini. Dan mulai hari itu lahbanyak kejadian yang menimpa diriku. Tanteku kini mempunyai usaha tempat makan yang buka dari jam 5 sore sampai jam 1 malam. Hampir setiap ku pulang sekolah, aku tidak bertemu tanteku karena dia sudah harus berada di tempat makan tsb jam setengah 5. Jadi aku hanya akan bertemu dengan om ataupun Dipo, itu juga kalau Dipo ngga ikut pergi dengan tanteku. Pernah suatu ketika saat ku pulang sekolah, saat berganti baju di kamar, omku tiba-tiba membuka pintu. Aku kaget dan reflek menutup tubuhku yang hanya memakai bra dan cd. Dan dia langsung bilang maaf dan pergi menutup pintu. Hari-hari selanjutnya kadang ku memergoki om yang sedang melihat paha ataupun toketku. Bajuku di rumah juga ngga menggoda. Kaos dan celana pendek ataupun daster selutut. Suatu malam, om meminta tolong memijit punggung dan kakinya, katanya terkilir. Awalnya aku agak ragu, namun aku ngga mau dibilang membantah. Posisi om sudah tengkurap di atas karpet. Aku pijit bagian punggungnya walaupun aku sendiri sebenarnya tidak tau bagaimana cara memijit yang benar. “Aahh, enak banget pijitanmu, Vie.. Coba ditekan lebih kuat lagi dong” Aku menurut saja. “Pinggang om juga pegal, Vie, tolong bagian situ lebih lama yah” Tanganku turun ke bagian pinggannya. Ku pijat dengan 2 tangan dan ditekan lebih keras. “Enak banget, Vie, Kayaknya pinggang om udah ngga sakit lagi deh, kamu emang pintar.. Sekarang pindah ke betis dan paha om
yah! Udah pegel bgt nih.”
“Ya om,” jawabku.
Pertama-tama ku pijat bagian pergelangan kakinya. Lalu pindah ke
betisnya, turun lagi ke bagian pergelangan kakinya, bergitu
berulang-ulang. Om memakai celana yang aga pendek setengah
paha.
“Udah, Vie, sekarang yg bagian paha yaa”
Lalu kupijat bagian paha, sesuai kata om.
“Mmmmhhh mmmhh”
Berulang-ulang om mengaluarkan suara seperti itu.
“Sakit ya, om?
“Ngga kok, Vie, justru enak banget malah! Coba keatasan dikit,
Vi..”
“Disini?”
“Naikan lagi dikit”
“Disini?”
“Iyaaa, enak bgt itu, Vi!”
Aku memijit paha bagian dalam, dekat sekali dengan
selangkangannya om.
Sejujurnya jariku sudah mulai pegal, namun om belum minta
berhenti, malah sepertinya dia keenakan.
Tiba-tiba dia membalikkan badan, lalu meminta aku memijat
pahanya yg bagian depan.
Kulihat sedikit basah di celana om. Tapi aku pura-pura ngga
melihat saja.
“Ayo pijat, kok malah bengong?”
“Ehhh ohh iya… Hehehe”
Sambil kupijat pahanya, kulihat om merem melek dan
mengeluarkan suara desahan yg pelan.
“Vi, kamu punya pacar?”
“Loh kok nanya ky gitu om?”
“Yaa nanya ajaaa, ngga mungkin kan anak seumuran kamu ngga
punya pacar. Tenang aja, om ga akan bilang sapa-sapa.”
“Mmmm ya ada sih om.”
“Terus kamu pernah ngapain aja sama pacar kamu?”
“Maksud om?
“Ahhh kamu pura-pura ngga ngerti! Apa pernah ciuman, atau
apa? Sejauh mana gitu lohh maksut om.”
“Ehh mmm yaa biasa aja sih, om, cuma ciuman aja, sama
pegang-pegang aja.”
“Hahaha om ngerti…”
Malam itu sesi pijitnya selesai sampai disitu. Begitulah hampir
setiap malam om memintaku untuk memijitnya. Kalau pulang
sekolah, kadang om suka memberi uang saku untukku, tidak
dikasi ke tanganku, tapi langsung ditaro di kantong bajuku.
Jarinyanya kadang digerakkan dengan sengaja saat didalam saku
baju, sehingga mengenai pentilku. Bagiku, uang 100ribu sangatlah
banyak.
Suatu hari, aku pulang agak malam. Jam 8 aku tiba di rumah.
Hanya ada om sedang menonton tv.
“Dari mana kamu?”
“Oh.. Aku abis dari nonton sama temen-temen, om.”
“Yawda sana cepet mandi, abis ini pijitin om ya”
“Iya”
Aku menutup pintu kamar dan agak sedikit sebel karena akupun
lelah, tapi masih saja harus memijit. Kulepaskan kancing bajuku
satu persatu. Kuturunkan risleting rokku. Kini hanya bra dan cd
saja yang menempel di tubuhku. Ku tatap tubuhku di cermin
besar. Sebenarnya aku pulang malam karena tadi pacaran dulu.
Kubuka kaitan bra, dan kutekan-tekan toketku perlahan. Ahh,
toketku agak sakit karena tadi pacarku meremasnya dengan
kencang. Pentilku juga sepertinya jadi lebih mancung akibat
hisapan tadi.. Kuperhatikan bekas gigitan pacarku di samping toket
kiri. Kuremas toketku perlahan dengan kedua tangan. Ahh
nikmatnya… Andaikan pacarku bisa melakukan ini setiap hari.
Kuperhatikan ekspresi wajahku saat ku remas toket ini. Kujepit
perlahan pentilnya. Sungguh nikmatttt…
Tiba-tiba om membuka pintu! Sial!!! Aku memang lupa
menguncinya! Dengan gelagapan kurain kemeja untuk menutupi
badan.

“A.. aaa… Apaan sih om?! Kok ngga ngetok pintu dulu sihh?!”
Suaraku bergetar, aku sangat ketakutan. Terlebih lagi sekarang aku
hanya pakai cd dan om melihatku penuh napsu.
“Ngga, om cuma pengen manggil kamu aja, kirain kamu
ketiduran.”
“Ngga kok om, a.. aku inget, nanti ya a.. a aku mau mandi dulu!”
Suaraku makin bergetar, om tau kalau aku sangat ketakutan.
Namun dia ngga beranjak dari pintu kamarku, malah melihatku
semakin lama dengan matanya yang penuh napsu. Senyumnya
terlihat licik!
Lalu dia melangkahkan kakinya kearahku.
“Ma mau apa?!”
“Vi, kamu terlihat cantik deh kalo ga pake baju. Om suka
ngeliatnya..”
“Ng nggak!! Sana pergiii!!!”
Aku lempar segala yang ada di atas tempat tidurku. Tas, jam
tangan, bantal, rok. Sulit sekali melempar barang-barang tersebut
sementara tangan kiriku mempertahankan kemeja seadanya yang
menutupi tubuhku.
“Sssh, Vi, jangan galak gitu doong”
Tiba-tiba dia menangkap tanganku, aku berontak sekuat tenaga,
namun tetap saja aku kalah tenaga bila dibandingkan dia. Lalu dia
memegang tanganku yg satu lagi. Kemejanya kini tersibak,
toketku menggantung bebas dan dia tertawa. Tubuhku dihempas
ke tempat tidur sementara tangannya memegang tanganku. Dia
menciumiku dengan paksa, aku berontak, kupalingkan wajahku ke
kanan kiri. Dia menggigit kupingku dan aku tetap melakukan
perlawanan.
PLAKKKKK….!!!
Sebuah temparan keras mendarat dipipiku. Perih sekali rasanya.
“Diam!!! Atau setelah ini om tampar lagi pipi kamu! Kalau masih
ngga mau diam, om sundut toket kamu ini pake rokok!!!”
Aku hanya bisa menangis.
“Ampun omm, jangannnn…. Jangan…”
Namun ngga digubrisnya, dia menciumi bibirku, memasukkan
lidahnya. Menciumi telingaku, menjilatnya sampai basah.
Ciumannya turun ke leher, digigitnya kecil-kecil. Aku ngga
sanggup meronta lagi, tanganku dibekap. Lalu dia berhenti
menciumiku.
“Toket kamu bagus banget, Vi. Om suka. Pacar kamu pasti
pernah ngemut toketmu kan? Tadi aja om liat kamu remas-remas
toketmu sendri! Sekarang om kasi yang lebih enak tapi jangan
melawan ya! Ingat, kalo kamu melawan, om sundut kamu pakai
rokok!”
Perlahan tanganku dilepasnya. Lalu dia mengelus-elus dadaku
sampai ke perut.
“Jangan, om… Plisss…”
Tangisku memang sudah berhenti, hanya tersisa sesengukan.
namun kata-kataku pun sepertinya ngga akan menghentikan om
sialan itu.
Tangannya mulai meraba-raba kedua toketku. Diremas-remasnya
dengan kencang, sambil dicium-cium. Pentilku dimainkan dengan
lidahnya, dihisap, lalu dimainkan lagi dengan lidahnya.
“Ahh…”
Aku tak sengaja mendesah.
“Tuh kan!! Om bilang juga apa, pasti enak kan!”
Lalu dia lanjutkan lagi kuluman pentilnya.
Sungguh, hisapan om memang lebih enak dibandingkan pacarku.
Pentilku dipelintir dengan kedua jarinya, dijepit, ditarik-tarik.
Walopun sedikit sakit, tapi enak.
“Nahh sekarang kamu isep punya om nih!”
“Ta tapi Vi belom pernah ngisep ‘itu’ om! Vi takut”
“Sini om ajarin ya”
Lalu dia turunkan celana pendeknya. Om ngga pakai celana dalam,
jadi penisnya langsung menyembul keluar. Aku kaget, dan
merasa aneh dengan bentuknya. Baru kali ini aku melihat penis
cowo secara langsung. Biasanya hanya lewat film porno.
Om menuntun tanganku untuk mengocok batang penisnya. Maju
mundur. Lalu mengarahkan ujung penisnya kebibirku.
“Emut ini, tapi jangan sampe kena gigi.”
Aku emut ujung penisnya perlahan, kurasakan cairan asin keluar
dari situ.
“Ahhh ya bener, Vi, enak banget! Coba masukin lebih dalam lagi!”
Ku masukkan batang penis lebih dalam lagi ke mulut sambil
kukocok batangnya. Kulihat om merem melek saat kulakukan itu.
Kepalaku didorong maju mundur olehnya. Kadang juga badannya
yang bergerak maju mundur. Lalu om memasukkan penisnya
jauh kedalam mulutku, rasanya sampai ke kerongkongan, aku
terbatuk-batuk, ku dorong pinggulnya menjauh dari mukaku.
“Hahaha.. Keselek ya, Vi? Tapi yg barusan itu enak banget loh,
lama-lama juga kamu terbiasa!”
“Udah, om. Vi ngga mau lagi..” Aku mulai menangis lagi.
“Ngga!!! Udah tanggung nih, om mau jilat memek kamu Vi!”
“Jaa jangan…”
belom sempat kuberontak, om sudah mendorong badanku
hingga terjatuh di tempat tidur. Kakiku digeser ke pinggir tempat
tidur, dia mulai menciumi perutku, lalu menciumi celana dalamku.
Aku coba menahan kaki untuk rapat, tapi percuma saja, pahaku
ditahan oleh kedua tangannya.
Dia mulai lagi menciumi, menjilat dan menggigit vaginaku yang
masih tertutup celana dalam.
“Aaahh oohh jang jangan ommmmm…”
Tapi dia terus menggerakkan bibirnya di vaginaku.
Sekarang jarinya meraba-raba celana dalamku yang sudah basah.
“Celana kamu udah basah tuh! Enak ya? Bentar lagi om kasi yang
lebih enak!”
“Nggaaaaa!!! Jangaannn ommm!! Pliisssss!!!!”
Tapi jarinya udah menggelitik bagian klit ku. Walopun masih
tertutup cd, rasanya seperti nyata.
Klit ku ditekan-tekan, kadang digerakan seperti gerakan
menggaruk.
“Uhhh om.. Udahhhhh!!! Pliissss!”
Kakikuu dibukanya makin lebar. Kepalanya berada diantara
selangkanganku. Jarinya masih bermain di klitku. Lalu dia berhenti,
berdiri, menyuruhku bangun dengan posisi duduk. Dia pindah
duduk dibelakangku. Dadanya menempel di punggungku. Diciumi
pundakku, tangan kanannya meremas payudaraku dan tangannya
satunya memainkan klitku.
“Gimana, Vi? Enak kan? Kamu kaya gini juga ngga ke pacarmu?”
Bibir om tepat di telingaku, aku ngga tau mau jawab apa, rasanya
cuma desahan pelan yang keluar dari mulutku.
Lalu tangannya masuk kedalam celanaku.
“Wah, kamu udah becek banget, Vi. Enak nih, licin!”
Tangannya berputar-putar di vaginaku, sesekali menyentuh klit.
Aku mendesah agak keras saat jarinya menyentuh klit. Om
menyadari itu, lalu dengan sengaja, dia mainkan jarinya di klitku
sementara tangan satunya lagi memilin pentilku dengan cepat.
“Ahhh om.. U udah udahhh!!!”
Tapi gerakan jarinya makin cepat di klitku. Ku rasakan darahku
mengalir sampai ke ubun-ubun. Aku ngga tau perasaan apa ini.
Sangat aneh tapi enak sekali. Jarinya bergerak makin cepat dan
ditekan semakin dalam. Sektika aku merasakan sesuatu yang aneh
yang membuat seluruh tubuhku mengejang.
“Ahhh om!!! Apaan ini!!!”
“Nikmatin aja, Vi, ini pasti bakalan enak banget kok, percaya deh
sama om!”
Ternyata benar, seketika itu tubuhku mengejang, kurasakan
denyutan di klit dan diseluruh tubuhku.
“Ommm udah, udah!!! St stoppp!”
“Gimana? Enak kan?”
Aku ngga menjawab, seluruh tubuhku masih terasa ngilu.
Lalu om bangun dari tempat tidurku, dia berlutut diantara kedua
kakiku. Diturunkan cdku perlahan. Toketku dan pentilku diciumi
sambil melepaskan cdku.
Sekarang aku benar-benar telanjang di depan omku. Aku lihat dia
berdiri dengan penis yang tegak. Dia memuji-muji tubuhku sambil
mengocok penisnya. Vaginaku diusap-usap sambil sesekali
memainkan klitku yang masih ngilu karena orgasme tadi. Lalu dia
jilat-jilat vaginaku. Lidahnya masuk kedalam lubang vaginaku.
“Jangan!!! Jangan dimasukin om!! Plisss”
Tapi lidahnya terus masuk kedalam vaginaku, membuat sensasi
geli dan enak, tapi aku juga takut. Takut kalo selaput daraku akan
sobek karena jilatan itu. Lidah nya terus menari-nari di liang
vaginaku. Sepertinya banyak sekali cairan yang aku keluarkan, tapi
om ngga peduli, dia jilat habisss semua cairanku. Jarinya semakin
menggila memainkan klit ku. Dan aku mendapatkan orgasme
yang kedua.

“Ahh ommm, ahhhhhh uhhh”
Ngga ada lagi kata yang bisa kuucapkan selain desahan. Vaginaku
berkedut hebat seiring detak jantung. Klitku terasa ngilu sekali.
“Vi, kalo kamu orgasme kaya tadi, bikin memek kamu makin
lebar. Sini om kasi yang lebih enak lagi dibanding yang barusan!”
“Ja jangan om! Vi masih perawan, Vi ngga mauu!!! Ja jangannn
om!!!”
Aku meronta sekuat tenaga.
PLAKKKK…!!!
Tamparan mendarat di pipiku. Ini lebih perih dari yang pertama.
Aku cuma bisa menangis, saat om menggesek-gesekkan
penisnya di bibir vaginaku. Aku coba merapatkan paha namun
sia-sia. Kalah tenaga.
Perlahan-lahan kepala penisnya menerobos bibir vaginaku.
“Ssss sa sakitttt ommm!!! Sakitttt!!!”
Om ngga peduli. Dia tetap mendorong penisnya. Ku cengkram
lengannya kuat-kuat. Sedangkan tanga satunya lagi mencengkram
sperei yang sudah berantakan.
Perih dan sakit sekali saat ujung penis itu masuk walaupun
perlahan.
“Liat nih, Vi, kepala ****** om udah masuk!”
Aku ngga mempedulikannya. Aku cuma meringis menahan sakit.
Om masih berusaha memasukan penisnya, kulihat batang
penisnya berlumuran darah namun ngga begitu banyak. Aku tau,
itu darah perawanku. Air mataku mengalir karena ku menyesali
kenapa harus kehilangan keperawananku dengan cara seperti ini.
Penis om masuk semaik dalam. Kurasakan penisnya berhimpitan
dengan tulang-tulang dalam vaginaku. Lalu penisnya digerakkan
mundur perlahan, lalu bergerak maju, begitu seterusnya.
Sungguh, aku ngga merasakan nikmat. Hanya sakit yang
kurasakan.
“Uhh.. Sssaakittt ommm!! Pe pelannn pelllannn…”
Penisnya bergerak maju mundur, dan sesekali dia tegangkan
penisnya sehingga membuatku mendesah lebih kencang. Kedua
pentilku sambil dipelintir dengan tangannya dan penisnya bergerak
maju mundur. Kali ini sedikit lebih cepat. Kulihat om mengeluarkan
desahan yang semakin kencang. Dagunya terangkat dan matanya
terpejam.
“Aaahh, Vi… Om mau keluar nih… Ahhhhh”
Aku mengerti kalau om sudah akan ejakulasi.
Dia cabut penisnya dan air mani bermuncratan ke perutku.
Rasanya hangat. Om masih mengocok batang penisnya yang
berlumuran darah.
“Aahhh Vi, memek kamu eennnnakkkk banget, peju om sampe
keluar benyak banget kan tuhh… Coba kamu jilat peju om dehâ
€¦”
Lalu om menuntun jariku, mencolek peju yang berlumuran diatas
perutku.
“Coba buka mulutnya”
Jari ber-peju itu ditempel ke lidahku.
“Gimana rasanya?”
“Anehh om, ngga enak ah”
“Hahaha kamu nanti lama-lama bakal ketagihan loh! Dah sana
kamu mandi. Sepreinya dicuci, tuh darah perawan kamu tumpah-
tumpah. Inget ya, Vi, jangan bilang siapa-siapa. Kalo ngga, badan
kamu yg bagus ini bakalan kena sundut rokok, mungkin juga lebih
dari itu.”
Aku cuma diam.
Saat itu cuma ada dendam terhadap om ku.
Begitulah setiap harinya, hampir setiap malam kalau tante dan
Dipo ngga ada dirumah, aku jadi budak napsu om bejat itu.
Permintaannya pun semakin aneh-aneh. Kadang dia ikat tangan ku
dan menyumpal mulutku dengan celana dalam yg kupakai lalu
badanku dilumuri lelehan coklat dan dia jilat seluruh badanku.
Pernah pentilku dijepit dengan jepitan jemuran dan lubang
vaginaku dimasukkan vibrator selama 3 jam, lalu aku disuruh
melakukan tarian erotis.
Salah satunya kejadiannya seperti ini…
Suatu hari tante ada keperluan di luar kota selama 3 hari. Di rumah
hanya tinggal aku, om dan Dipo. Setiap malam selama 3 hari itu,
om selalu menyelinap ke kamarku. Aku yang sedang tertidur tiba-
tiba merasakan ada tangan yang menyelinap kebawah dasterku.
Jari-jarinya masuk, dikocoknya g-spotku sampai aku orgasme.
Aku memang ngga pernah memakai bra dan cd saat tidur jadi
membuatnya semakin mudah saja. Ternyata om sudah
menyiapkan ‘peralatan’ untuk menyiksaku. Dia telanjangi aku dan
menyumpal mulutku dengan celana dalamnya. Lalu tanganku
diikat ke teralis jendela. Kaki ku diikat ke ujung kaki tempat tidur
sehingga tubuhku membentuk huruf X. Lalu om keluar kamar dan
kembali dengan membawa plastik hitam. Dia mengeluarkan
jepitan jemuran. Jepitan jemuran diarahkan ke pentilku.
“Jaangan om! Itu pasti sakit!! Ja…..”
Suaraku terdengar tidak jelas karena disumpal
Jlepppp!!!!
Jepitan jemuran itu kini sudah menjepit pentil kiriku.
“Ahhhhhhh.. sakiiittt! Ampunn omm!!!!”
Jlepppp!!!
Kini pentil kananku juga dijepit dengan jepitan jemuran.
Dia tersenyum melihat ekspresiku yang kesakitan.
Rambutku dijambak dan diciumi sambil meremas-remas toketku
yang menegang.
“Kamu udah jadi budakku! Kamu harus nurut!”
Sekarang dia meraih tas plastik hitam yang tadi dibawa.
Ada kain panjang berwarna hitam lalu dia lilitkan dikepalaku,
menutupi mata.
Sekarang aku ngga bisa lihat apapun.
Lalu terdengar bunyi sesuatu yang dikeluarkan dari tas plastik. Aku
ngga tau apa itu. Om cuma tertawa pelan.
Benda itu mengeluarkan suara getaran.
Zzzzzz zzzzz zzzzz
Ahh! Tidaaakk!! Itu pasti vibrator!
Kukerahkan tenaga ku untuk melepaskan tali yang mengikat dan
tiba-tiba vibrator itu berada di bibir vagina. Bergetar di klitorisku,
ditekan dengan kuat disitu dan akhirnya aku orgasme.
Om tertawa melihatku orgasme karena vibrator itu. Lalu dia
masukkan kedalam vaginaku. Speednya pun bertambah makin
cepat. Vaginaku dikocok dengan vibrator. Sensasinya memang
luar biasa apalagi kalau dilakukan dengan cepat.
“Mmmmhhh!!! Mmmhhh!!”
Eranganku tidak terdengar jelas saat vibrator itu dicopot dan
diletakkan di penjepit jemuran yang kini menjepit pentilku. Lalu
dimasukkan lagi ke vaginaku.
Tak lama kemudian aku pun orgasme. Kakiku mengejang dan
tubuhku ahirnya terkulai lemas. Namun om tetap membiarkan
vibratornya didalam vaginaku
“Tenang Vi sayang, aku akan menaruh vibrator ini selama 5 jam
di dalam memek kamu.”
“Aahh!!! Ngga!!! Ngga mau!!! Dasar bajingan!!! Sialan!!!”
Walau suaraku tidak terdengar jelas, aku yakin om tau
perkataanku.
Namun dia diam saja disampingku sambil meraba toketku.
Terdengar suara plastik diambil, sepertinya om mengambil
sesuatu lagi didalam situ.
“Vi, aku masih punya 1 lagi nih!”
Ternyata masih ada 1 lagi vibrator. Lalu dia nyalakan dan dia
tempelkan vibrator itu di penjepit jemuran yang kini menjepit
pentilku.
Aku rasakan sensai geli dan sakit secara bersamaan.
“Gimana, Vi? Yang ini pasti lebih enak.”
Tak lama kemudian aku orgasme hebat karena vibrator dalam
vaginaku. Dan itu berlangsung selama 5 jam. Entah berapa
orgasme yang kudapatkan, pastinya lebih dari 10 kali.
Sudah jam 5 subuh. Om melepaskan penutup mataku. Kulihat dia
telanjang dengan penis yang tegak.
“Vi, om udah napsu banget dari 5 jam lalu waktu om siksa kamu.
Sekarang gantian ****** om yang masuk situ yah.”
Kontolnya dimasukkan maju mundur dengan gerakan cepat,
dihentakkan dalam-dalam dan jarinya memainkan klitorisku. Aku
pasrah karena tak ada lagi tenaga yang tersisa.
“Aahhh, Viiiii, om mau keluar nihhhh… Aaaahh…”
Lalu buru-buru dia cabut penisnya dan dilepaskan celana dalam
yang menyumpal mulutku. Dia masukkan dalam-dalam penisnya
yang berdenyut itu. Cairan hangat menyembur ke dalam
kerongkonganku. Aku sampai tersedak karena banyak sekali peju
yang dikeluarkan.
Ngga semuanya aku telan, ada yang aku keluarkan karena aku
mual. Lalu om membasuh mukaku dengan pejunya yang tumpah
dari mulutku.
Penisnya yang masih belepotan peju dilap ke toketku. Dia
tersenyum puas. Puas karena sudah semalaman mengerjai aku.
“Makasih ya, Vi sayang…”
Lalu dilepaskan tali yang mengikat tangan dan kakiku. Setelah
vibrator tsb diambil, dia pergi begitu saja dari kamar.
Dan kini sudah 3 tahun aku tinggal bersama mereka. Aku pun
memutuskan untuk kuliah di Bandung. Kelakuan bejat om ku
selama ini sepertinya tidak diketahui oleh tanteku. Om
menyayangkan keputusanku untuk kuliah di Bandung. Dia bilang
kalau aku memutuskan untuk kuliah di Jakarta, dia mau
membantu biaya kuliahku. Cih! Aku tau betul maksud kata-katanya
itu. Tapi keputusanku sudah bulat.
Kini aku kuliah di Bandung, di kampus incaranku. Kebetulan juga
aku mendapat beasiswa disini. Hal-hal yang terjadi di masa lalu
membuatku tegar dan menjadikan ku orang yang berbeda. Kini
aku menjadi liar untuk urusan seks. Aku suka sekali menyiksa
pasangan seksku. Mendengarkan jeritan dan melihat ekspresi
ketakutan mereka membuatku semakin bergairah. Jadi, inilah aku
yang sekarang.